Annyeong haseyo… ^^ selamat datang… ^^ Ahlan wa sahlan… ^^ Wilujeung Sumping… ^^

Berani?… Siapa takut.. >.<

Bismillahirahmanirahim . . .

Keberanian . . . atau dikenal dengan istilah As-Saja’ah adalah “Kemampuan menundukkan jiwa agar tetap tegar dan teguh maju saat berhadapan dengan musuh ataupun musibah”.

Keberanian juga harus disertai dengan kesabaran. Akan sulit jika menjadi orang yang berani tanpa kesabaran. Karna . . . Kesabaranlah yang akan menjadi energi bagi orang pemberani sehingga ia tetap berada dalam kesabarannya . . .

Yang menarik disini bagi saiia adalah tentang ”Menundukkan jiwa”

Berusaha & Belajar menundukkan jiwa ketika api kemarahan sedang berkobar. Menundukkan jiwa untuk menngendalikan masalah . . .

Teringat Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash

Teringat juga Peristiwa Fathul Makkah yang fenomenal . . .

Ketika para Sahabat diusir dari Mekkah . . . diperangi,, difitnah berkali-kalo oleh para pemimpin Quraisy.

Ketika Bilal disiksa dengan begitu luar biasa . . .

Dan ketika Fathul Mekkah itu terjadi . . . mereka . . . para sahabat diminta untuk mengampuni dan memaafkan orang yang telah menyiksanya….

Subhanallah . . . kemampuan manajemen emosi yang begitu luar biasa . . .
Inilah Tarbiyah dari ALLAH . . .

Bagaimanakah Perwujudan Sifat As-Saja’ah ? . . .

Yang Pertama . . .
Berterus terang dalam kebenaran . . .

Jika da’wah hanya bersifat amar ma’ruf saja,, mungkin resikonya kecil . . . tetapi,, ketika da’wah yang sifatnya nahi munkar . . . itu yang resikonya besar . . . harus siap berhadapan dengan berbagai komentar,, hujatan,,, dan hal lainnya . . .

Yang Kedua . . .
Kemampuan untuk menyimpan dan menyembunyikan rahasia . . . tidak membukanya,, apalagi menyebarluaskannya . . . .

Yang Ketiga . . .
Mengakui kesalahan diri sendiri . . .

Tidak lempar batu sembunyi tangan. Tidak mengemas kesalahan-kesalahan dengan ”pembenaran”. Yang membedakan pemberani dan pecundang adalah . . . ”Setelah salah,, dia bagaimana?… apakah langsung mengakui kesalahannya atau malah berusaha mencari-cari pembenaran?….

Coba diingat kembali kisah tentang Ka’ab Bin Malik dalam Perang Tabuk
Siapa tak kenal Ka’ab bin Malik ?
Sahabat Rasul yang begitu populer,, bisa dibilang Ring satunya Rasul. Beliau pernah melakukan suatu kesalahan.

Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang. Salah satu di antar mereka. Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik.

Kesalahan yang beliau lakukan pada saat itu adalah, saat beliau absen dalam perang tabuk tanpa alasan apapun. Pada saat itu angin malas berangkat berperang tiba-tiba muncul dalam benaknya dan ia tak kuasa menahan gejolak kemalasan itu. Padahal seorang Ka’ab bin Malik adalah seorang prajurit Rasulullah yang sangat Qoowy (spesial) untuk memenuhi panggilan jihad, beliau tak pernah absen untuk selalu ada di barisan pertama Rasulullah. kemudian terpikir dalam benaknya,  santai dulu sebentar karena biasanya aku bisa berlari lebih cepat dari yang lain hingga walaupun terlambat sedikit tetap saja akan ada di barisan pertama. Dan dia pun bersantai sebentar setelahnya, kemudian ia berkata, mungkin esok saja aku susul saat Rasulullah mengabsen semua prajuritnya, dan makin malas makin malas hingga akhirnya iapun tertinggal bersama orang2 udzur, perempuan dan anak2 di kotanya.

Sungguh malang nasib Kaab bin Malik seorang prajurit yang gagah perkasa tertinggal pasukan perang bersama orang2 udzur.

Saat peperangan telah usai, menjadi kebiasaan sahabat Rasul saat itu untuk meemberikan kabar keabsenan masing2 prajurit. Maka, Berdatanganlah orang-orang yang menyampaikan uzurnya. Mereka menyampaikan alasan-alasan mereka tidak ikut serta dalam perang Tabuk. Lalu muncullah Ka’ab. Beliau berkata ”Sesungguhnya,, jika bukan engkau yang ada di hadapanku, aku akan sangat mudah mencari-cari alasan,, tetapi .  . . aku khawatir, ketika engkau meridhai alasanku,, ALLAH tidak ridha kepadaku..” Ka’ab menyampaikan bahwa ia menunda-nunda keberangkatan untuk perang, hingga ia jadi malas. Kemudian,, Rasul pun memberi iqob untuk mengasingkan Ka’ab. Tidak boleh ada interaksi atau pembicaraan dengan Ka’ab selama itu. Pada saat sedang dalam keadaan terasing,, muncul tawaran dari pihak musuh untuk mengajaknya bergabung,, Ka’ab langsung merobek surat tersebut dan mengatakan ”Ini fitnah yang jauh lebih besar”.

sangat perih sekali penderitaan kaab bin malik. hinggaa tepat hari ke50, turunlah perintah dari Allah melalui Rasulullah untuk mengampuni Kaab bin Malik. hingga ia pun terbebas dari segala ujian yang sedang menimpanya.

Dari kisah ini,, yang berhubungan dengan sifat As-Saja’ah adalah keberanian dari Ka’ab untuk mengakui kesalahannya. Ia berani mengaku dengan jujur pada Rasulullah tentang kemalasannya tanpa mencari-cari pembenaran.

Semoga bermanfaat . . .

Wallahu’alam bishshowwab . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s