Annyeong haseyo… ^^ selamat datang… ^^ Ahlan wa sahlan… ^^ Wilujeung Sumping… ^^

Persiapan Pernikahan

RESUME MATERI
Kopdar#¹ komunitas to be WOW (Wonderful Wife) part (²)
Ahad 25 Mei 2014
oleh : Euis Kurniawati

Sebelumnya kita sudah bahas sekilas tentang
persiapan pernikahan yang pertama yaitu
persiapan ruhiyah/mental (ada 4 point :
ujian dan tanggung jawab. Sabar dan
syukur. Mengubah espektasi menjadi obsesi.
Menata ketundukan pada semua ketentuan-
Nya)
Selanjutanya persiapan pernikahan yang
kedua adalah:
2. Ilmiyah Tsaqafiyah / Ilmu pengetahuan.
Ada banyak hal ternyata yang
HARUS kita pelajari dan pahami
sebelum masuk gerbang pernikahan,
bahkan bagi mereka yang telah
menikah pun pasti akan merasakan
hal yang tidak jauh berbeda, butuh
selalu belajar, butuh selalu menimba
ilmu. Karena dinamika rumah tangga
begitu luas, begitu kompleks, dinamis.
Akan lebih membantu jika sebelum
menemui masalah kita sudah punya
wacana tentang itu dan tahu
bagaimana bertindak dengan tepat.
Akan berbeda kalau sekedar trial-error.
Ibarat kita akan beli sebuah peralatan
elektronik misalnya, pasti ada buku
petunjuk tentang penggunaannya dan
antisipasi apa yang harus dilakukan
agar tidak rusak. Begitu pula dengan
pernikahan.
Mungkin saat kita berupaya
menambah wawasaan kita, misal
dengan baca buku / buka link-link
artikel, akan ada bersitan pikiran,
“Aduh.. Rasanya kok hampa ya,
males, kayaknya belum terlalu urgent
belajar ini.”
Hmm.. Paksakan saja terus baca,
yakinkan diri saja, mungkin ndak
terasa manfaatnya saat ini, tapi
suatu saat nanti info ini PASTI
akan sangat berguna.
Beberapa ilmu yang perlu kita pelajari
sebelum menikah, antara lain:
A. Fiqh
Pernah ada cerita seorang
kawan yang kebetulan habis
ngisi taklim ibu-ibu paruh baya
di sebuah kota, banyak
dari mereka yang belum ngerti
kalau ternyata ada kewajiban
mandi junub setelah
berhubungan suami istri.
Kewajiban itu saja mereka
belum paham, apalagi caranya.
Padahal rata-rata sudah
menikah bukan dalam
hitungan bulan. Tapi sudah
bertahun-tahun bahkan banyak
yang usia pernikahannya
diatas 10 tahun. Lalu
bagaimana dengan sholatnya
selama ini? Wallahu a’lam ..
Jika istri telah bersih
dari haidh, apakah boleh
berhubungan dengan suami
meski ia belum bersuci (mandi
besar)? Ini juga masuk bahasan
fiqh.
Termasuk juga tentang apakah
beda status najis pada pipis
bayi laki-laki dan bayi
perempuan? Fiqh pula yang

akan menjawabnya. Dan masih
banyak contoh yang lainnya.
In sya Allah pada pertemuan-
pertemuan berikutnya akan
diundang ustadz yang kompeten
untuk membahas masalah ini.

B. Komunikasi Pasangan
Ilmu tentang komunikasi
pasangan perlu kita pelajari
sebelum menikah. Karena pada
dasarnya karakter, dan ciri
khas masing-masing juga tidak
sama. Jika tidak diilmui
bisa berpotensi konflik dan
memicu pertengkaran.
Misal bagi seorang wanita
kalau ada masalah, ia akan
senang bercerita dan
didengarkan. Berbeda dengan
laki-laki yang lebih memilih
menyendiri dan berkontemplasi.
Memiliki “ruang” sendiri alias
“masuk goanya” adalah cara
yang khas bagi seorang laki-laki
untuk menyelesaikan
masalahnya. Kalau kita
sebagai istri tidak memahami
karakter ini, bisa-bisa kita
malah menuduhnya tidak
perhatian dan lari
dari masalah. Padahal memang
demikian caranya
menyelesaikan masalah.
Contoh lagi; Saat seorang
wanita bilang “tidak apa-apa”,
sebenarnya ia sedang “apa-
apa”. Berharap sang suami
memahaminya, tapi alih-alih
demikian, yang ada suami
menangkapnya memang “tidak
apa-apa”. Bukan gak peka, tapi
memang hampir semua laki-
laki demikian sebagai ciri
khasnya.
Ada buku bagus yang ga ada
salahnya masuk list daftar
buku yang perlu kita beli.
Men are from mars, women are
from venus karya Jhon Gray.
Ndak terlalu mahal kok, sekitar
45.000. Kalau di Surabaya bisa
cari di TB Togamas Pucang.
*bukan iklan :p
Berikut beberapa cuplikannya:
Fragmen 1
Istri: Bajunya bagus yah?
Suami: Ambil aja. Beli lah..
Istri: Tapi mahal
Suami: Demi istri
Istri: Lagi banyak keperluan
bulan ini
Suami: Ya udah ga usah beli
Istri: … Hmm, ok, mau deh beli
Suami: ……….
Fragmen 2
Istri: Aku bagus ga pake ini?
Suami: Bagus
Istri: Tapi kayaknya aku
kelihatan gemuk kalau pake ini
Suami: Ya udah pake yang lain
*solutif*
Istri: Tuh kaaaaan… AKU
GEMUK!
Suami: -_-’
Fragmen 3
Suami: Aku anter ya
Istri: Ga usah, aku bisa sendiri
Suami: Ok deh
Istri: Jadi… Mas tega aku
pulang sendiri!
Suami : @_@
Jadi wahai para istri, mulailah
belajar menyampaikan uneg-
uneg yang ada, mulailah
berlatih menyampaikan ide dan
perasaan yang sebenarnya, tak
perlu pakai bahasa kiasan, tak
usah pakai bahasa ambigu.
Kenapa? Karena memang laki-
laki diciptakan tidak bisa
menangkap itu. Ia bukan
paranormal yang bisa mengerti
bahasa hati kita. So,
sampaikanlah.
Komunikasikanlah.
Jangan sampai karena
tuntutan alam bawah sadar
kita untuk menjelma menjadi
sosok istri yang shalihah
kemudian memangkas
keberanian kita untuk
menyampaikan pendapat dan
uneg-uneg di dada. Hati-hati,
jika tidak disalurkan dengan
tepat, ia bagai bola es yang terus
menggelinding membesar dan
berbahaya.
Kalau ndak bisa ngomong
langsung bagaimana? Biasa
perempuan, bisa jadi belum
ngomong udah nangis duluan.
Ga jadi ngomong deh.. Hehehe..
Banyak jalan menuju Roma.
Pointnya kan yang penting
terkomunikasikan, caranya bisa
beragam. salah satunya dengan
saling diskusi via bbm/WA.
Dalam bentuk tulisan. Kalau ga
bisa juga? Tunggu aja di
paparan materi pertemuan-
pertemuan berikutnya. ^_^
C. Parenting
Hal lain yang perlu kita ilmui
sebelum menikah adalah seputar
dunia parenting. Waktu kita
sedikit, belum puas belajar
tentang menjadi istri yang
shalihah tiba-tiba saja kita
harus mengemban amanah
menjadi ibu. Maka
mengilmuinya jauh sebelum
menikah menjadi sebuah
kebutuhan, bahkan bisa
dibilang tuntutan.
Misal seputar kehamilan,
apakah ngidam itu ilmiah dan
memang ada secara medis?
Atau justru ternyata itu hanya
dikenal di Indonesia saja?
Apakah kita sudah cukup
faham tentang all about ASI?
Tentang asi eksklusif, tentang
Inisiasi Menyusui Dini
(IMD), dan sebagainya.
Terkadang banyak juga yang
masih kebingungan saat
pertama kali melahirkan dan
asi belum lancar keluar sudah
buru-buru mau dikasih sufor.
Eits, tunggu dulu. Bayi baru
lahir ternyata bisa bertahan
48-72 jam tanpa minum lho,
karena ia masih menyimpan
cadangannya saat masih dalam
kandungan.
Asi keluar tapi dikit bangettt,
kasihan takut kurang. Emang
mau dikasih seberapa, Bu? Lha
wong lambung dedek bayi yang
baru lahir memang cuma
sebesar kelereng. Bagi saya
pribadi dan suami (libatkan
pula ia untuk belajar) lebih
sering ngakses akun twitternya
@ID_AyahASI @aimi_asi
@tipsmenyusui untuk belajar.
Contoh lain tentang parenting
misalkan, jika ada anak kecil
lari-lari kemudian ia terjatuh
dan menangis, apa yang
biasanya para orang tua
kebanyakan katakan?
Bisa jadi antara 2 opsi ini:
“Sudah dibilang, jangan lari-
lari! Tuh, jatuh kan!”. Padahal
dengan jawaban seperti ini
anak akan belajar untuk
menganggap dirinya selalu
bersalah dalam hidupnya.
Atau jawaban kedua:
“Waduh jatuh, sudah cup, cup,
ya sayang, lantainya nakal ya?
Sini Bunda pukul ya
lantainya”. Dari sini anak
akhirnya belajar mencari
kambing hitam atas
kegagalannya. Padahal akan
lebih pas kalau kita sebagai
orang tua meresponnya dengan
“Wah jatuh ya, lain kali lebih
hati-hati ya Sayang. Jalannya
pelan-pelan aja”.
Hmm.. Banyak sekali PR yang
dipelajari di point parenting
ini. In sya Allah dipertemuan-
pertemuan berikutnya akan
kita bahas lebih detail dengan
para ahlinya..

D. Skill Domestik Rumah Tangga
Bisa masak, Mbak?|Bisa dong,
masak soto, gulai, kari, iga sapi
panggang dll. Tapi dalam
bentuk mie instan. Hehehe…
Yap, memasak seringkali lekat
dengan tugas seorang istri.
Walaupun kalau dilihat
bagaimana sisi Islam
memandang urusan-urusan
domestik seperti memasak,
mencuci, dan sebagainya itu
sejatinya adalah kewajiban
suami. Sama seperti sebuah
hadist yang mengatakan tamu
adalah raja. Tapi hadist ini
ditujukan bagi tuan rumah
agar bisa melayani dan
menjamu tamunya dengan
baik. Hadist ini tidak
ditujukan bagi tamu yang
kemudian dijadikan patokan
agar ia menuntut diperlakukan
bagai raja. Begitu juga dengan
urusan domestik ini. Meskipun
itu kewajiban suami, tapi
bukan berarti istri lepas tangan.
Oleh karena itu meng-ilmui
skill ini mutlak diperlukan.
Bagaimana menyusun menu
makanan dengan gizi seimbang.
Bagaimana mengolah makanan
sisa, misalnya ketidaktahuan
banyak ibu kalau ternyata
sayur bayam ndak boleh
dipanasi karena akan jadi
racun.
Bagaimana menyajikan
makanan yang lezat meski
tanpa vitsin dan MSG.
Termasuk yang paling simpel
mengenal rempah-
rempah sederhana. Karena
masih banyak saya jumpai
adik-adik mahasiswi yang
ternyata masih bingung untuk
membedakan mana kencur,
kunci, jahe dan laos. Masih
bingung mengenali mana
merica dan mana ketumbar.
Masih tidak yakin mana daun
salam dan mana daun jeruk
purut…
Semoga kedepan kita bisa bahas
ini di pertemuan-pertemuan
berikutnya. Beberapa
diantaranya nanti kita akan
langsung praktek saat
pertemuan.
3. Persiapan Jasadiyah / Fisik
Setidaknya dalam persiapan ini kita
memasang 3 target berdasar
prioritasnya:
A. Primer
Target primer kita adalah
memastikan diri kita sehat dan
aman dari penyakit. Terutama
kesehatan reproduksi.
Terkadang keluhan-
keluhan ringan semasa gadis
kalau tidak disikapi dengan
tepat bisa menjadi sesuatu yang
tidak nyaman saat berumah
tangga. Misal tentang
keputihan, pola menjaga
kebersihan daerah kewanitaan,
dll. In sya Allah pada
pertemuan berikutnya akan
ada pembahasan khusus tentang
ini bersama praktisi kesehatan
langsung.
Di point ini juga seolah
menegaskan kepada kita untuk
memastikan semua yang masuk
ke dalam tubuh adalah sesuatu
yang baik dan tidak berpotensi
menimbulkan penyakit. Misal
menghindari junk food, makan
pentol dengan saus yang merah
menyala, dan sebagainya.
B. Sekunder
Target kedua kita adalah bugar
dan tangkas. Ga gampang
lemas, ndak mudah sakit. Gesit,
cekatan.
Bisa dibayangkan kalau seorang
ibu gampang lemas dan sakit,
pasti akan kerepotan
menjalankan amanahnya
secara maksimal. Oleh
karena itu target sekunder ini
perlu diperjuangkan. Salah
satunya dengan olah raga.
Coba bertanya pada diri kita
masing-masing. Kapan terakhir
kita berolah raga?
Jangan-jangan jawabannya
adalah saat SMA. Saat
pelajaran penjaskes di sekolah.
Wow, Sudah berapa lama itu????
Hehehe..
Untuk itu, in sya Allah setiap
hari Sabtu, seluruh member
komunitas to be WOW akan
diwajibkan berolah raga dalam
bentuk apapun yang disuka.
Boleh badminton, bersepeda,
senam, renang atau bahkan
sekedar lari dan lompat di
tempat. Agar olah raga bukan
menjadi hal yang memberatkan,
tapi justru menyenangkan dan
ringan kita lakukan.
C. Tersier
Target ketiga dalam persiapan
fisik sebelum menikah adalah
beauty and charm . Mudah-
mudahan di pertemuan yang
akan datang bisa dibahas
tentang masalah ini
dari ahlinya.
Semoga bisa mengundang salah
satu salon muslimah untuk
membagi ilmunya tentang
bagaimana menjaga kesehatan
kulit dan rambut. Perawatan
wajah minimal apa dan
bagaimana yang bisa kita
lakukan mandiri di rumah
untuk menjaga kesehatan dan
kecantikan wajah, dan
sebagainya.
4. Persiapan Finansial
Setidaknya ada 3 hal penting yang
perlu kita siapkan sebelum menikah.
Membangun wacana dengan benar,
meletakkan paradigma yang
proposional tentang:
A. Bahwa di point ini kita tidak
berbicara tentang berapa banyak
materi yang dimiliki oleh calon
pangeran kita. tapi bicara potensi dan
kesungguhannya untuk bertanggung
jawab sepenuhnya sebagai kepala
keluarga.
Banyak hikmah yang sering saya
dapat seputar point ini dari para
sahabat dan kerabat yang lebih dulu
menikah. Namun ijinkan saya berbagi
kisah tentang pengalaman pribadi
saya.
Dulu suami melamar saya saat beliau
belum lulus kuliah. Saat itu beliau
memang sudah berpenghasilan dengan
aktifitasnya sesekali mengisi training-
training mahasiswa atau
memeriahkan acara dengan menjadi
MC. Tapi bisa dibayangkan berapa
penghasilannya. Tentu tidak bisa
dikatakan besar.
Orang tua sempat bertanya kepada
saya saat itu : “Yakin mau nikah
sama Mas Adri? Belum lulus kuliah,
gak punya penghasilan tetap. Terus
ntar kamu mau dikasih makan apa?
Mending nikah aja sama si fulan
anak teman mama itu, pekerjaannya
sebagai dokter lebih menjanjikan.”
Hm.. Saya buang jauh-jauh pikiran
bahwa orang tua saya materialistis.
Semua orang tua pasti ingin yang
terbaik untuk anaknya, ndak ada
orang tua yang menginginkan
anaknya hidup susah. So, wajar kalau
pernyataan itu meluncur dari bibir
beliau.
Alhamdulillah, dulu sebelum menikah
saya sudah suka baca-baca buku dan
artikel seputar pernikahan. Jadi
punya argumen untuk menepis
kekhawatiran beliau. Saya sampaikan
saat itu dengan lembut,
“Ma, Pak Adri memang saat ini
ndak berpenghasilan tetap, tapi in sya
Allah yang penting beliau tetap
berpenghasilan. Walaupun kami gak
pernah pacaran, tapi saya lebih
mantap kalau meneruskan proses
dengan beliau, daripada dengan anak
teman mama yang dokter itu. Dia
nggak “ngaji” seperti aku, Ma.
Ngerokok lagi.. Bismillah Ma, kalau
memang Pak Adri yang dipilih Allah
jadi pendampingku, aku ndak terlalu
khawatir kesulitan ekonomi
kedepannya. Aku yakin nikah itu
mengkayakan. Yakin, karena itu janji
Allah. Gak mungkin kan Allah mau
ingkar janji?”
Bareng-bareng kami buka buku Ust.
Salim yang mencuplik penggalan
Quran surat An-Nur: 32
“Dan kawinkanlah orang-orang yang
sedirian diantara kamu, dan orang-
orang yang layak (berkawin) dari
hamba-hamba sahayamu yang lelaki
dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. Jika mereka miskin Allah
akan memampukan mereka dengan
kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya) lagi Maha
Mengetahui”
Kami juga buka cuplikan ttg hadist yg
jangan menikah krn harta, ada
warning disana yg sdh sy singgung di
resume sblmnya. Alhamdulillah stlh
itu orang tua ACC sy melanjutkan
proses dg bliau sampai akhirnya
gerbang pernikahan itu nyata di dpn
mata.
Meski sempat mengalami kondisi sulit
ekonomi, tapi kami merasa banyak
campur tangan Allah disana.
Misal saat kami memutuskan pisah
dari orang tua untuk belajar
mandiri, kami sempat bingung. Mau
pindah kemana? Mau ngontrak
rasanya nggak mungkin. Ngga ada
uangnya kalau langsung bayar penuh
di depan. Pilihannya cari kos-kosan
suami istri. Tapi alhamdulillah waktu
mengisi training di Banyuwangi, ada
peserta yang baru kenal di sana
menawarkan rumah anak beliau
ditempati oleh suami dan saya.
Karena sang pemilik sedang
melanjutkan studi S3 di Australi
bersama keluarga kecilnya. Kami
tinggal bawa badan aja. Lingkungan
nyaman, Rumah bagus, AC, mesin
cuci, spring bed, cooking set, semua
lengkap.. Gratis.
Ma sya Allah, rasanya nggak percaya.
Seneng banget.
Tapi kami disana cuma sekitar 7
bulan, karena pekerjaan suami cukup
jauh kalau harus dijangkau dari
tempat tinggal pinjaman kami saat
itu. Akhirnya kami pindah haluan,
cari kos-kosan suami istri dibilangan
Raya Prapen Surabaya. Kamar
ukuran 3×4 plus kamar mandi dalam,
menjadi catatan jejak perjalanan
rumah tangga kami. Biar mungil tapi
hangat.
Dan alhamdulillah, sekitar 7 bulan
juga kami menempati kos-kosan
hingga akhirnya Allah beri rizki dari
arah yang tak terkira dan bisa beli
rumah sendiri (tanpa subsidi dari
orang tua maupun saudara) di
kawasan perumahan yang nyaman, 5
menit dari kampus ITS. Impian yang
dulu kami pikir bisa diraih saat
setidaknya sudah 10-15 tahun
berumah tangga, tapi Alhamdulillah
terwujud saat belum genap 2 tahun
pernikahan. Mohon maaf, tiada
maksud menyombongkan diri. Bukan
karena hebatnya kami, tapi mutlak
karena Rahmat dan karunia dari
Allah. Cerita ini disampaikan
semoga bisa makin meyakinkan kita
bahwa janji Allah itu benar. Jangan
pernah takut miskin karena menikah,
karena Allah pasti memampukan.
Lebih bersyukur lagi ketika hikmah
ini pun akhirnya di-aamiin-i pula
oleh orang tua dan keluarga. Bahagia…
Syukur kami tiada henti…
Semoga rumah tangga kita semua
Allah beri kelancaran rezeki,
kebarokahan harta. Berkah berlimpah,
hingga sanggup menebar kemanfaatan
yang lebih luas dengan harta kita. In
sya Allah..

B. Persiapan kedua terkait finansial
ini adalah tentang kemampuan kita
sebagai istri untuk mengelola
keuangan. Berapa pun nafkah yang
diperoleh suami, bisa dikelola dengan
bijak. Perencanaan keuangan bisa
masuk ke dalam point ini. Termasuk
perencanaan menu masakan yang
dihidangkan tiap harinya. Ndak
selamanya harus sesuai budget, perlu
sesekali kita belanja dibawah budget,
agar selisihnya bisa di saving untuk
membuat menu yang lebih istimewa di
hari lainnya. Termasuk pula tips
tentang “amplop”, sudah memasukan
sejumlah uang ke dalam beberapa
amplop sesuai posnya, menghindari
campur-campur alokasi dan akhirnya
bengkak alias over budget.
In sya Allah pertemuan-
pertemuan berikutnya akan dibahas
tentang masalah ini.
C. Persiapan ketiga dalam konteks
finansial ini adalah tentang
membangun paradigma yang tepat
(bukan benar) setelah kita menikah
dan dikaruniai anak. Apakah
menjadi wanita karier atau “cukup”
menjadi ibu rumah tangga. Karena
tiap kita pasti tak sama. Sudut
pandang, kebutuhan dan daya pikul
kita berbeda. Maka jadi mungkin, apa
yang baik buat saya, belum tentu tepat
buat yang lain. In sya Allah akan
dibahas detail berikutnya.
5. Persiapan sosial
Persiapan terakhir untuk menuju
pernikahan adalan persiapan sosial.
Setidaknya ada 2 hal. Pertama
tentang bagaimana membangun
komunikasi dengan keluarga besar
tentang konsep pernikahan idaman.
Bagi kita yang memilih menikah
dengan cara yang tidak seperti
kebanyakan orang pasti akan jadi
tantangan. Misal memilih menikah
dengan calon yang dipilihkan guru
ngaji dan tanpa pacaran. Misal
memilih menikah tanpa
menggunakan ritual dan
perlengkapan adat istiadat, misal
konsep menikah dengan memisah
tamu laki-perempuan dan
meminimalisir standing party, dan
sebagainya. Proses membangun
wacana, melobi bahkan sampai
melibatkan orang tua untuk hadir
menyaksikan konsep pernikahan yang
kita idamkan menjadi sebuah nilai
plus kalau dilakukan jauh-jauh hari
bahkan tidak menjadi masalah meski
belum ada calonnya. Hehehe…
Kedua tentang persiapan sosial ini
adalah mengasah kemampuan
bersosialisasi dan berkontribusi di
masyarakat.
Berbeda ketika masih single dan
menyandang status anaknya bapak/
ibunya dengan ketika sudah
menyandang predikat istri Pak
Fulan. Mulai buang kebiasaan acuh
tak acuh dan merasa cukup
dengan sekedar melempar senyum,
menganggukan kepala kemudian
masuk rumah dan tutup pintu
sepulang kuliah/kerja.
Mulailah silaturahim dan menjalin
komunikasi dengan tetangga sekitar
kita. Tak ada salahnya pula
menawarkan bantuan untuk
menemani anak-anak kecil sekitar
mengerjakan tugas sekolahnya,
meskipun 1 pekan sekali. Tak ada
salahnya pula menyambung keakraban
dengan mereka meski hanya dengan
membagi 1 bungkus permen.
Mulai juga untuk mengambil peran
dan kontribusi di lingkungan kita
tinggal. Meskipun saat ini kita
berstatus sedang rantau di tanah
orang. Terlibat dalam kepanitiaan
Agustusan, aktif di karang taruna
atau mengambil kontribusi sebagai
remaja masjid terdekat.
Trust me it’s work.. Akan sangat
bermanfaat bagi kita saat kelak
berumah tangga jika sudah terbiasa bersosialisasi dan berkontribusi di masyarakat sejak masih muda.
-end-

 

 

BANNER FREE MEMBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s